Search
Close this search box.

BBB (Birokrasi Bergerak Berdampak) Strategy

Sesuai dengan arahan Presiden RI Joko Widodo yang menginginkan birokrasi berdampak, birokrasi bukan tumpukan kertas, dan birokrasi lincah dan cepat.

Ide birokrasi berdampak sesungguhnya datang dari Presiden Jokowi melalui tiga poin arahannya:

#1. Birokrasi yang berdampak.

#2. Reformasi birokrasi bukan tumpukan kertas.

#3. Birokrasi lincah dan cepat.

Tiga sasaran tersebut harus ditopang dengan pemerintahan digital yang berbasis data. Kenapa pemerintahan digital? Karena pemerintahan modern di seluruh dunia semakin mengadopsi teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan pelayanan publik. Pemerintahan masa depan yang efisien dan efektif tak mungkin tanpa enabler teknologi informasi. “Software is eating the government.”

Untuk mewujudkan birokrasi berdampak terdapat  12 jurus yang kami dibagi ke dalam dua kelompok besar, yang kami singkat 2S:

+ STRATEGY: The 7 Actionable STRATEGIES.

+ STYLE: The 5 Leadership STYLES.

Tujuh jurus yang pertama kami sebut “Actionable Strategies” karena jurus-jurus ini digali dan didapatkan wisdom-nya dari lapangan.

Sementara 5 jurus berikutnya kami sebut “Leadership Style” karena jurus-jurus ini lebih mendekati art ketimbang science. Kepemimpinan adalah jurus yang banyak diwarnai oleh karakter, nilai-nilai, dan keyakinan yang dipegang oleh si pemimpin sehingga sifatnya unik-otentik dan situasional  sesuai dengan dinamika masalah yang dihadapi.

Kami menggambarkan ke 12 jurus tersebut ke dalam sebuah model seperti terlihat pada gambar. Dalam model tersebut jurus 2S ini kami gambarkan layaknya sebuah mesin turbin. Dimana bilah-bilah turbin merepresentasikan 7 Strategi BBB (“Bergerak Birokrasi Berdampak”). Sementara penggerak turbin yang ada di pusat lingkaran adalah Style, yaitu jurus Kepemimpinan AAA (“Abdullah Azwar Anas”).

Kenapa kami mengambil penggambaran mesin turbin?

Karena, bagi kami persoalan mendasar birokrasi kita adalah kecepatan dan akselerasi. Oleh karena itu, tantangan terbesarnya adalah “memutar bilah-bilah turbin” hingga mencapai kecepatan dan akselerasi setinggi mugkin dengan memanfaatkan jurus 2S.

Dalam model tersebut, Leadership Style berada di pusat lingkaran, karena kami melihat bahwa jurus-jurus kepemimpinan akan menjiwai jurus-jurus Actionable Stratgy yang diterapkan. Strategi yang sama, tapi dijalankan dengan gaya kepemimpinan yang berbeda, akan menghasilkan pola eksekusi dan outcome yang berbeda. Jadi antar dua elemen 2S ini harus tercipta chemistry.

 

BBB: The 7 Actionable STRATEGIES

Jurus pertama adalah Strategi yang merupakan “hard aspect” dari jurus reformasi birokrasi yang kami usung. Kenapa kami sebut “hard aspect”, karena di dalamnya mengandung prinsip-prinsip strategi yang obyektif-teknis-spesifik, yang bisa dirumuskan ke dalam langkah-langkah “how to”, sehingga mudah direplikasi siapapun.

 Terdapat 7 actionable strategies yang kami jalankan untuk menggulirkan reformasi birokrasi berdampak yaitu:

Cara kerja birokrasi kita kompleks, ribet, dan bikin mumet. “Kalau bisa dipersulit, kenapa harus dipermudah,” begitu sindiran yang selalu dialamatkan ke birokrasi kita.

Karena itu simplifikasi adalah hal pertama dan utama yang harus kami benahi agar birokrasi kita efisien dan efektif. Semakin efisien dan efektif, maka birokrasi akan semakin berdampak pada masyarakat.

 

Simplifikasi mencakup semua upaya yang berkaitan dengan penyederhanaan proses bisnis. Simplifikasi proses bisnis berarti kita mengeliminasi hal-hal yang tidak penting dan tidak esensial, untuk lebih fokus pada hal-hal yang lebih bermakna.

Digitalisasi di pemerintahan bukanlah untuk gaya-gayaan, tapi untuk mempermudah akses pelayanan publik sesuai kebutuhan, baik secara langsung (direct services), pelayanan bergerak (mobile services), pelayanan mandiri (self-services) maupun aplikasi (electronic services).

Ada empat fokus dalam digitalisasi yang kami lakukan: Pertama, fokus ke konsumen yaitu masyarakat, alias GovTec yang citizen-centric. Kedua, penyelenggaraan one-stop government service. Artinya Kami harus mampu menyediakan wadah terintegrasi berbagai layanan yang

lebih efisien dan mudah diakses oleh masyarakat: “Satu untuk semua”.

Ketiga, integrated citizen information, artinya kami selaku pemerintah harus mampu mengoptimalkan integrasi pengelolaan data pribadi untuk meningkatkan kualitas pelayanan yang diberikan. Dan keempat, collaboration, yaitu menjalin kerjasama lintas sektor dan aktor untuk memberikan pelayanan yang terbaik.

Kerja kami memang tidak monumental layaknya membangun sebuah bangunan legendaris. Kerja kami adalah kerja-kerja sunyi tetapi vital. Kerja-kerja kami adalah kerja orkestrasi. Yaitu orkestrasi yang melibatkan kementerian, lembaga, dan instansi pemerintah daerah untuk menciptakan harmoni dan sinergi.

Orkestrasi adalah kemampuan untuk melakukan proses pengelolaan dan penyelarasan berbagai elemen organisasi. Di dalamnya, termasuk SDM, proses bisnis, teknologi, hingga aturan dan kebijakan untuk mencapai tujuan strategis bersama.

Orkestrasi mendorong peningkatan kinerja dan efisiensi organisasi. Orkestrasi memungkinkan optimalisasi sumber daya. Orkestrasi yang efektif juga dapat mengurangi tumpang-tindih organisasi, meminimalkan biaya, dan mewujudkan perbaikan secara terus-menerus.

Core values adalah “pelumas” birokrasi.

Kesamaan nilai-nilai dasar dan perilaku akan menghilangkan friksi-friksi di antara mereka. Budaya kerja yang solid secara otomatis merubuhkan tembok-tembok antar instansi dan meleburkan sekat-sekat lembaga. Silo-silo dan ego sektoral akan hilang dengan sendirinya.

Di era VUCA (volatility, uncertainty, complexity, ambiguity), agiliti adalah faktor kunci keunggulan bersaing bangsa (competitive advantage of nation).

Agiliti mengacu pada kemampuan suatu organisasi untuk cepat beradaptasi dan merespon perubahan lingkungan baik dari internal maupun eksternal. Juga kemampuan untuk cepat menyesuaikan strategi, proses, struktur, dan sumber daya untuk meraih peluang. Makin ramping, makin bersaing. Meski sedikit tapi solid.

Manajemen performansi bukan hanya untuk mencapai tujuan-tujuan administratif, tetapi untuk mewujudkan birokrasi yang berdampak, melalui manajemen performansi berfokus hasil, pegawai didorong untuk mencapai potensi penuhnya dan menghasilkan kinerja ekselen. Di sini perlu ada perubahan mindset dan paradigma dari orientasi input ke orientasi outcome. Kalau sebelumnya mengacu pada berapa anggaran yang akan dihabiskan, maka kini orientasinya berubah ke outcome, yaitu dampak kinerja nyata yang dihasilkan dan dirasakan masyarakat.

Pengembangan kompetensi adalah pilar terpenting dari organisasi yang hebat. “Great people make great organization.” Oleh karena itu setiap organisasi harus mengembangkan kompetensi karyawannya, termasuk organisasi pemerintahan.

Pengembangan kompetensi adalah pilar terpenting dari organisasi yang hebat. “Great people make great organization.” Oleh karena itu setiap organisasi harus mengembangkan kompetensi karyawannya, termasuk organisasi pemerintahan.

AAA: The 5 Leadership STYLES

Kalau Strategi adalah “hard aspect”, maka Kepemimpinan adalah “soft aspect” dari jurus reformasi birokrasi berdampak. Kami sebut “soft aspect”, karena sifatnya yang lebih personal-universal-situasional, lebih merupakan art ketimbang science. Kenapa begitu? Karena banyak diwarnai oleh kepribadian, nilai-nilai, dan keyakinan si pemimpin.

Ada 5 leadership styles yang kami praktikkan untuk menyukseskan reformasi birokrasi berdampak yaitu:

“Menginspirasi dengan Bukti”

Seeing is believing.

Hanya dengan bukti, siapapun akan percaya pada kita. Begitupun pemimpin. Seorang pemimpin akan dipercaya anak buahnya hanya jika ia bisa menunjukkan bukti, berupa capaian-capaian hebat.

“Momentum untuk Mempercepat Eksekusi”

 “Negara yang cepat akan mengalahkan negara yang lambat,” kata Pak Jokowi. Selaras dengan Pak Jokowi, tantangan terbesar kita adalah menciptakan sistem dan proses birokrasi yang cepat dan agile.

“Ini adalah Tentang Detail”

Dalam organisasi apapun, apakah bisnis, pemerintahan, ataupun lembaga non-profit, eksekusi adalah penentu utama sukses seorang pemimpin. Celakanya eksekusi adalah bagian tersulit bagi seorang pemimpin.

“Superteam Lebih Super dari Superman”

Memasuki era Revolusi 4.0 sudah tidak zamannya kita bekerja secara sendiri-sendiri. Setiap organisasi baik pemerintahan, bisnis, maupun sosial harus berkolaborasi untuk bisa mengakselerasi kinerja organisasi. Kini mindset-nya bukan lagi kompetisi tapi kolaborasi. Yang pertama berorientasi “win-lose” atau “menang-kalah” (zero-sum game). Sementara yang kedua “win-win”, yaitu bersinergi untuk mencapai hasil yang berlipat.

Kolaborasi harus menciptakan sinergi. Sinergi terwujud jika 1 + 1 bukan lagi 2, tapi 3, 5, atau bahkan 10. Artinya, penyatuan dua pihak membuahkan hasil eksponensial, bukan sebatas penjumlahan keduanya. Selalu mengedepankan superteam, ketimbang superman, alias menonjolkan kehebatan masing-masing individu. Kami yakin sepenuhnya bahwa superteam jauh lebih super dari superman.

“Setiap Insan adalah Pemenang”

Pemerintah adalah pemegang “monopoli” pelayanan publik. Karena itu pemerintah tak mengenal kompetisi. Karena tak ada kompetisi, maka tidak pernah ada pemenang. Karena tidak pernah ada pemenang, maka tak ada winning mentality. Mindset ini harus dibalik

 

Birokrasi pemerintahan harus mengadopsi spirit yang ada di sektor swasta, yaitu menempatkan warga masyarakat (“konsumen”) sebagai raja. Dan habis-habisan berupaya memuaskan mereka dengan cara menciptakan mekanisme dan iklim kompetisi yang sehat.