Search
Close this search box.

Branding for Politician

Semaraknya pemilu Tahun 2024  kini menggambarkan bahwa terjadinya pergeseran paradigma dalam kampanye politik dari masa lalu hingga saat ini.

Pada masa lalu, kampanye politik cenderung terbatas pada taktik-taktik konvensional seperti arak-arakan di jalan, pemasangan spanduk dan baliho, serta penggunaan jargon-jargon kosong untuk menarik perhatian pemilih. Namun, dengan perkembangan zaman, kampanye politik telah mengalami transformasi yang signifikan. Kontestasi antar kandidat menjadi semakin kompleks dan canggih, sehingga strategi-strategi lama menjadi ketinggalan zaman dan tidak lagi efektif.

Sebagai gantinya, pendekatan baru yang lebih modern, yang melibatkan ilmu pemasaran dan branding, menjadi semakin penting.

Pemilih yang semakin cerdas dan terinformasi membuat politisi tidak lagi dapat mengandalkan taktik-taktik yang berlebihan atau tidak beralasan seperti “jurus mabuk” atau “serangan fajar”.

Oleh karena itu, politisi yang ingin berhasil dalam kontestasi politik harus mengadopsi pendekatan yang lebih ilmiah, konseptual, dan sistematis, yang dapat kita sebut sebagai pendekatan strategis. Ini menekankan pentingnya adaptasi dan inovasi dalam menjawab tuntutan baru dari pemilih yang semakin cerdas dan kritis.

Di zaman yang modern saat ini, politisi harus mulai mengadopsi bentuk kampanye yang cerdas, menggunakan pendekatan strateji dan meninggalkan cara-cara yang tidak terpuji seperti money politics dalam praktik demokrasi di Indonesia.

Bagaimana bahayanya money politics dalam membentuk karakter bangsa?

Berikut bagan atau model Vicious Circle to Virtous Circle atau ‘lingkaran setan’ money politics.

vicious circle (lingkaran setan) tersebut harus dihentikan. Karena dapat menumbuhkan politisi-politisi yang menghancurkan demokrasi di Indonesia.

politisi dapat mengadopsi pendekatan strategi atau yang kami sebut sebagai strategic marketing. Dalam pendekatan strategik ini, Seorang kandidat yang ingin maju dalam kontestasi politik harus mengikuti tiga langkah berikut:

  • Strategic Situation Analysis
  • Strategy Formulation
  • Strategic Execution & Evaluation

Pertama, mereka harus memetakan situasi persaingan di dapil-dapil yang menjadi arena pertandingan mereka. Kedua, mereka harus memformulasikan strategi bersaing dengan mengacu kekuatankelemahan pesaing dan perilaku pemilih. Ketiga, mereka harus mengeksekusi strategi tersebut dan mengonversinya menjadi suara di bilik-bilik TPS.

Menggunakan pendekatan stratejik tersebut, kami mencoba merancang sebuah model strategic marketing yang bisa digunakan oleh para politisi peserta kontestasi politik untuk membangun brand equity dan memenangkan persaingan. Model tersebut tergambar pada bagan berikut ini.

Ada empat langkah stratejik yang harus dilakukan oleh politisi:

1. Personal Brand Audit

Langkah pertama adalah memetakan situasi persaingan yang mencakup tiga aspek yaitu: voter audit (analisis pemilih), competitor audit (analisis pesaing) dan self audit (analisis kandidat). Analisis ini dilakukan untuk mengetahui peta kekuatan diri si kandidat, peta kekuatan pesaing, dan perilaku/preferensi pemilih.

Pertama voter audit, adalah analisis terhadap profil pemilih yang mencakup karakteristik demografis, psikografis, dan perilaku memilih mereka. Kedua self audit, adalah analisis terhadap kekuatan dan kelemahan si politisi dalam memperebutkan pemilih. Ketiga competitor audit, adalah analisis terhadap kekuatan dan kelemahan pesaing yang ikut dalam kontestasi politik.

Analisis terhadap pemilih dan kekuatan-kelemahan diri sendiri maupun pesaing ini menjadi insight yang sangat berharga untuk Personal Brand Core si kandidat.

2. Personal Brand Core

Personal Brand Audit menghasilkan pemahaman yang komprehensif mengenai situasi yang dihadapi si politisi dan menjadi bahan berharga untuk menyusun strategi personal branding.

Dalam menyusun strategi personal branding Anda harus menggali faktor-faktor keunggulan yang membedakan Anda dari pesaing. Elemen-elemen keunggulan ini diwujudkan dalam apa yang kami sebut: Personal Brand Core. Elemen-elemen Personal Brand Core inilah yang secara konsisten harus Anda komunikasikan ke pemilih sehingga terbentuk trust dan reputasi unggul di benak mereka.

Tapi tentu komunikasi saja tidak cukup. Untuk membentuk personal brand equity yang kokoh dan sustainable, elemen-elemen keunggulan yang terumus dalam Personal Brand Core tersebut harus diwujudkan secara nyata dan betul-betul memberikan value yang dirasakan oleh pemilih/konstituen. Ada lima elemen inti yang harus Anda tuangkan di dalam Personal Brand Core, yaitu:

+ Purpose
+ Character
+ Competence
+ Value Proposition
+ Brand Narrative

Agar mudah dikomunikasikan ke pemilih/konstituen, kelima elemen inti tersebut harus bisa dirajut menjadi sebuah pernyataan yang singkat, padat, dan komprehensif menjadi Personal Brand Statement.

3. Personal Brand Strategy

Selanjutnya, Anda harus merumuskan Personal Brand Strategy dengan mengacu kepada matriks yang secara khusus kami kembangkan sebagai berikut:

Strategi defensive-maintain (“guard”) adalah strategi generik yang seharusnya diambil oleh kandidat yang mengambil positioning petahana dan posisi dapilnya merupakan domain (basis massa kuat). Di sini kandidat harus memfokuskan diri untuk mengomunikasikan pesanpesan kampanye kepada basis pemilih loyal yang sudah dikuasai. Tujuannya untuk “menjaga” mereka supaya tidak diambil-alih oleh pesaing.

Strategi maintain-offensive (“winger”) adalah strategi generik bagi kandidat yang mengambil positioning penantang dan posisi dapilnya merupakan domain (basis massa kuat). Sebagai penantang, kandidat harus mengomunikasikan pesan-pesan kampanye kepada basis pemilih loyal yang jumlahnya kecil tidak berarti. Sehingga yang harus dilakukan adalah mengubah loyal voters tersebut menjadi evangelist voters.

Para evangelist voters ini memainkan peran kunci sebagai “marketers” bagi kandidat untuk menyebarluaskan visi-misi-program kandidat untuk mendongkrak popularity, likeability, dan electability.

Strategi offensive-passive (“playmaker”) adalah strategi generik yang diambil oleh kandidat yang mengambil positioning petahana dan posisi dapilnya merupakan non-domain (basis massa lemah). Sebagai petahana, di sini kandidat ingin melakukan ekspansi popularitas dan elektabilitas. Walaupun telah memiliki basis pemilih loyal yang besar, namun ia ingin menjangkau pemilih dari segmen lain.

Strategi yang harus dimainkan di sini adalah: “sell the achievement”. Yaitu masif mengomunikasikan pencapaian-pencapaian yang telah dihasilkan si kandidat selama menjabat.

Strategi passive-aggressive (“third way”) terjadi ketika kandidat mengambil positioning “Jalan Ketiga” atau Third Way. Dalam posisi ini kandidat tidak boleh terlalu mencolok dalam menyerang, namun juga tidak berdiam diri memasang posisi defensif. Kandidat harus memperhatikan momentum saat melakukan serangan (offense) atau saat bertahan (defense) untuk bisa mengklaim keunggulan.

adalah strategi yang paling ekstrem dan menantang. Yaitu ketika penantang ingin memenangkan kontestasi di dapil non-domain (basis massa lemah). Tujuan akhirnya adalah dengan seribu cara meruntuhkan elektabilitas petahana. Karena perannya yang agresif menyerang, maka strategi ini mirip peran seorang striker dalam permainan sepakbola.

4. Personal Brand Tactic

Setelah merumuskan Personal Brand Strategy, maka panduan strategis tersebut harus diterjemahkan ke dalam taktik komunikasi yang tepat dan relevan. Konsep Personal Brand Core (Purpose, Character, Competence, Value Proposition, Brand Narrative) harus dikerucutkan menjadi core message dan slogan yang simple, jelas, dan nendang.

Anda juga harus mengembangkan bauran media komunikasi yang tepat, baik: paid media, owned media, earned media, maupun endorser (disingkat: POSE). Untuk mendistribusikan pesan-pesan kampanye, Anda harus memiliki “content factory” yang memproduksi konten melalui kreasi, kurasi, maupun kolaborasi.