Search
Close this search box.

Fomo Marketing Strategy

Berdasarkan FinanceOnline, sekitar 60% generasi milenial melakukan pembelian produk karena pengaruh FOMO. Bahkan tak sedikit pembelian tersebut terjadi dalam kurun waktu 24 jam.

Saat ini, 7 dari 10 generasi milenial mengalami fenomena FOMO.  Berdasarkan FinanceOnline, sekitar 60% generasi milenial melakukan pembelian produk karena pengaruh FOMO. Bahkan tak sedikit pembelian tersebut terjadi dalam kurun waktu 24 jam.

Hal ini terjadi karena pasalnya mereka adalah market terbesar saat ini ditambah lagi mereka adalah digital native, yaitu orang-orang yang lahir dan tumbuh besar di era perkembangan teknologi yang sedang pesat seperti internet dan media sosial. Hal inilah yang menjadi enabler bagi FOMO. Sebab dengan platform seperti media sosial, informasi dapat tersebar dengan cepat dan masif.

Melihat peluang yang sangat besar tersebut, pertanyaan penting yang harus terjawab adalah “Apakah FOMO dapat diciptakan untuk memasarkan suatu produk?” Sebab sudah sepatutnya para marketer memanfaatkan fenomena ini untuk mendongkrak penjualan dan menguasai pasar.

Di era medsos saat ini hype semakin sering terjadi mulai dari tren yang menjadikan konsumen  memiliki kecenderungan untuk mengikuti apapun yang sedang ramai diperbincangkan.

Hype merupakan bagian dari FOMO yang dapat memicu manusia untuk salah mengambil keputusan yang logis. Singkatnya, FOMO dapat menciptakan bias kognitif.

Terdapat 3 bias kognitif yang berpengaruh dalam pengambilan keputusan dari konsumen yang terjangkit FOMO:

Salah satu kebiasaan  blunder pikiran dimana manusia selalu memberikan value lebih tinggi pada objek yang ketersediannya terbatas. Sehingga, bias kelangkaan ini menciptakan urgensi fomsumer untuk segera membeli.

Kecenderungan manusia untuk melakukan sesuatu jika mayoritas melakukannya. Semakin banyak orang yang membeli atau mengunjungi atau mengikuti suatu aktivitas tertentu maka semakin baik pula tanggapan orang akan aktivitas tersebut. Oleh karenanya, social proof merupakan mekanisme paling ampuh untuk mempengaruhi tindakan orang-orang.

Suatu tindakan atau pilihan seseorang dalam mengambil keputusan yang berfokus pada aksi menghindari kerugian alih-alih menyoroti kelebihannya. Maksudnya, konsumen lebih memilih menghindari kerugian untuk mendapatkan keuntungan dengan nilai yang sama. Jelasnya, konsumen tidak ingin kehilangan kesempatan untuk mencoba atau mendapatkan sesuatu produk secara cuma-cuma atau gratis.

Tiga bias terkait FOMO ini sangat memengaruhi pola perilaku dan proses pengambilan keputusan fomsumenrs sehingga marketers dapat menyiasatinya untuk mendongkrak penjualan.

Terdapat 5 prinsip yang dapat dilakukan dalam melakukan FOMO Marketing:

‘Lead your fomsumers spread the good news about your brand’. FOMO akan ampuh tercipta ketika pesan, peristiwa atau pengalaman pemicu FOMO bukan datang dari brand tetapi dari sesama fomsumers sendiri secara peers-to-peers dan circle -to-circle. Semakin datang dari fomsumers, maka akan semakin powerful kekuatan FOMO yang dihasilkan.

Create fomsumer’s sense of urgency through limited availability, time, and people.’ FOMO bisa diciptakan dengan cara membatasi jumlah (limited availability). Waktu (limited time) dan pengguna (limited people) untuk membentuk persepsi kelangkaan. Hal ini dikarenakan mengacu pada salah satu bias kognitif bahwa persepsi kelangkaan akan memperpendek rantai proses pengambilan keputusan fomsumer, sehingga mendorong sense of urgency mereka untuk membeli.

‘Relate and connect to your fomsumer contect.’ FOMO akan lebih powerful ketika pesan, peristiwa, atau pengalaman yang menimbulkan FOMO memiliki relevansi dengan konteks fomsumers, relevancy creates engagement, participation, dan involvement.

Trigger fomsumers to seek for social approval.’ Prinsip ini menggunakan prinsip validasi sosial bersumber pada bias kognitif social proof. Social proof merupakan tendensi kita untuk selalu mengikuti apa yang dilakukan oleh kebanyakan orang lain. Karena asumsinya, ketika kebanyakan orang lain beramai-ramai melakukan sesuatu maka tindakan mereka itulah yang dianggap benar. Social proof sangat ampuh dalam menciptakan FOMO dan mendorong penjualan.

‘Spread your shareable content , connected experience, and contagious story’.

Viralitas merupakan api dan FOMO adalah bensin. Jika keduanya saling bertemu, maka akan tercipta energi marketing yang sangat dahsyat. Untuk menciptakan viralitas yang FOMOABLE kita harus menyebarkan shareable content, connected experince, dan contagious story.