Search
Close this search box.

Millennial Muslim Megashifts:
The 5S Model

Model yang menggambarkan 5 perubahan besar milenial muslim pasca pandemi

Model ini mencoba merumuskan perubahan besar muslim milenial pasca pandemi COVID-19. Terdapat 5 pergeseran muslim milenial yang disingkat dengan 5S yaitu Spiritual, Safety, Screen, Self-Expression, dan Social.

Seperti diketahui, preferensi dan perilaku konsumen milenial berubah drastis dari generasi sebelumnya. Dalam buku Millennial Kills Everything (2019) kami menyebut telah terjadi “patahan tektonik” dalam preferensi dan perilaku milenial dibandingkan generasi sebelumnya. Perubahan ini begitu penting di Indonesia mengingat hampir 90% penduduknya adalah muslim.

Kelima millennial muslim megashifts tersebut adalah sebagai berikut:

Kaum muslim menyikapi bencana COVID-19 sebagai bentuk “hukuman” yang diberikan oleh Tuhan YME kepada umat manusia karena dosa dan perbuatan yang telah dilakukan  selama ini. Karena itu, pandemi justru mempertebal keimanan kaum muslim dengan melakukan koreksi fundamental dalam menjalani hidup di dunia.

 

Bagi kaum muslim, pandemi merupakan momentum untuk meluruskan kembali seluruh aspek kehidupannya agar patuh dan selaras dengan nilai-nilai Islam. Bencana pandemi bukan menjauhkan tetapi justru semakin mendekatkan kaum muslim milenial kepada Tuhan YME.

Pandemi semakin menyadarkan kaum muslim milenial akan pentingnya menjaga kehalalan dan kebaikan (toyyiban) karena musabab datangnya bencana ini adalah kelalaian akan prinsip halalan toyyiban. Pandemi membuat masyarakat semakin peduli terhadap informasi kehalalan suatu produk.

 

Halal di sini tidak hanya disematkan pada produk makanan semata. Dalam Islam, dikenal konsep halalan thayyiban yang artinya diperbolehkan agama (halal) dan memberikan manfaat baik (thayyiban). Sering dengan pentingnya CHSE (Cleaniliness, Healthiness, Safety, Security) karena adanya bencana pandmi, kini label halal semakin diasosiasikan dengan persepsi sehat dan aman.

Adopsi digital kaum muslim milenial mengalami perluasan (widening) dan pendalaman (deepening) di seluruh aspek kehidupan mereka mulai dari bekerja, belajar, bermain, bersosialisasi, beribadah hingga berderma.

 

Dalam hal berderma melalui ZISWAF (zakat, infaq, sadaqah, dan wakaf) misalnya, melalui platform digital maka semua orang dapat melakukan pembayaran ZISWAF dengan mudah. Sehingga ke depannya, potensi donasi digital dari ZISWAF akan terus meningkat dan lembaga filantropi maupun gerakan sosial lainnya akan tumbuh subur terutama pasca pandemi COVID-19

Pandemi tidak akan memupuskan keinginan muslim milenial untuk mengembangkan self-actualization, esteem, dan leisure. Mereka akan berinovasi dan beradaptasi untuk mewujudkannya. They are still fun generation.

 

Keinginan untuk terus menikmati leisure ini akan mendorong kian maraknya konsep wisata halal pasca pandemi. Pandemi COVID-19 menjadi kesempatan untuk membangkitkan pariwisata halal. Pasalnya, tuntutan yang muncul terhadap pariwisata selama masa pandemi sejalan dengan konsep pariwisata halal

Serangkaian krisis (ekonomi, teknologi, Kesehatan) yang dihadapi muslim milenial di sepanjang hidup telah mendorong mereka untuk welas asih, berempati dan peduli ke saudara-saudara yang ditimpa musibah. The golden age of ZISWAF.

 

Pandemi COVID-19 telah menciptakan masyarakat baru yang penuh empati, terilihat dari begitu banyaknya aksi simpatik dari seluruh anggota masyarakat khususnya milenial muslim untuk memberikan donasi dan penggalangan dana bagi masyarakat yang terkena dampak COVID-19.

 

Data dari Google menyebutkan, pencarian kata kunci “menyumbangan” naik hingga 150%, begitu pula “paket sembako” melonjak hingga 200% selama 2020 kemarin.