Muslim Market Segmentation

Matriks yang memetakan segmentasi pasar muslim di Indonesia yang mengacu pada orientasi konsumsi konsumen muslim baik “duniawi” maupun “akhirati”.

Kami telah melakukan studi kualitatif berupa observasi dan focus grop discussion untuk merumuskan segmentasi dan profil konsumen muslim di Indonesia. Kami membagi konsumen muslim Indonesia menjadi empat sosok seperti tergambar pada matriks.

Matriks tersebut tersusun atas dua dimensi perilaku konsumen, yaitu tingkat sumber daya (resources) yang dimiliki oleh konsumen muslim dan tingkat adopsi (adoption) mereka terhadap nilai-nilai Islam. Dua faktor tersebut sangat siknifikan memengaruhi perilaku mereka dalam memutuskan pembelian atau mengonsumsi produk.

“Universalist” (High Adoption – High Resources)

Konsumen tipe ini merupakan sosok muslim yang secara umum memiliki wawasan yang luas serta menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan keseharian mereka. Sosok muslim seperti ini lebih mau menerima perbedaan dan cenderung menjunjung tinggi nilai-nilai yang bersifat universal dan kritis. Mereka biasanya tidak malu untuk berbeda, tetapi di sisi lain mereka cenderung menerima perbedaan orang lain.

“Conformist” (High Adoption – Low Resources).

Tipe konsumen ini umumnya sangat taat beribadah dan menerapkan nilai-nilai Islam dalam kesehariannya. Karena keterbatasan sumber daya yang dimiliki (terutama pengetahuan), untuk mempermudah pengambilan keputusan mereka memilih produk-produk yang berlabel Islam atau yang di-endorsed oleh otoritas Islam atau tokoh Islam panutan. Pada umumnya mereka mengutamakan faktor ketaatan kepada ajaran Islam yang mereka yakini, sehingga walaupun produk berlabel Islam itu memiliki kekurangan-kekurangan fungsional, dengan mudah mereka memaklumi.

Rationalist (Low Adoption – High Resources).

Konsumen tipe ini memiliki pendidikan dan wawasan yang luas tetapi memiliki tingkat adopsi nilai-nilai Islam yang rendah. Segmen ini serupa dengan tipe konsumen muslim “Universalist” dimana mereka sangat kritis dalam melakukan pemilihan produk. Perbedaannya, konsumen ini lebih memperhatikan manfaat dari produk yang ia beli baik fungsional (functional benefit) ataupun emosional (emotional benefit). Label Islam atau unique value proposition (UVP) syariah bukan menjadi konsideran penting bagi mereka.

Apathist (Low Adoption – Low Resources).

Tipe konsumen muslim yang terakhir adalah muslim yang memiliki pengetahuan/wawasan yang rendah dan adopsi nilai-nilai Islamnya juga rendah. Konsumen tipe ini umumnya tidak memiliki pemahaman yang cukup mengenai merek-merek berlabel Islam atau menawarkan UVP yang Islami. Mereka tidak melihat adanya perbedaan antara merek-merek Islam dan merek konvensional. Konsumen ini pada umumnya masih bergumul dengan kebutuhan dasar (basic needs) dan  masih belum memperhatikan UVP yang bermuatan spiritual.