Search
Close this search box.

PACEKLIK STARTUP DIGITAL

Pandemi menjadi alasan jebloknya startup digital yang umumnya dibesut founders milenial ini. Di era DIGITAL DISRUPTION mereka mendisrupsi perusahaan-perusahaan besar-mapan. Namun ironis, di era PANDEMIC DISRUPTION mereka justru didisrupsi oleh Covid-19. Covid-19 (ditambah perang Rusia vs Ukraina) membuat bisnis mereka babak-belur.

Lima tahun lalu membangun bisnis serasa (baca: soalah-olah) mudah. Cari ide brilian, rumuskan model bisnis digital (tentu dengan pitch deck-nya), cari investor global, bakar duit, lalu valuasi triliunan rupiah, dan sang founder menjadi selebriti+motivator diundang seminar sukses di mana2.

Namun tahun ini gambaran indah itu mulai kelabu. Satu-persatu startup digital itu mulai bertumbangan. Minggu ini kita mendengar berita Zenius mem-PHK karyawan. Tak hanya itu thn ini LinkAja, TaniHub, UangTeman, Fabelio hingga JD.ID  juga melakukan langkah sama.

Kita menunggu, apakah “DOMINO EFFECT” ini bakal berlanjut atau bahkan “digital startup bubble” segera meletus. Tak hanya itu, gambaran muram juga tercermin dari  kinerja 2 startup digital pertama yang melantai di bursa: Bukalapak dan GoTo.

Jauh dari dugaan kami, kedua emiten ini tak cukup mendapatkan sentimen positif di pasar sehingga harga sahamnya kurang menggembirakan.

Pandemi menjadi alasan jebloknya startup digital yang umumnya dibesut founders milenial ini. Di era DIGITAL DISRUPTION mereka mendisrupsi perusahaan-perusahaan besar-mapan. Namun ironis, di era PANDEMIC DISRUPTION mereka justru didisrupsi oleh Covid-19. Covid-19 (ditambah perang Rusia vs Ukraina) membuat bisnis mereka babak-belur.

Pertanyaannya, mampukah mereka bangkit pasca pandemi?

Kebanyakan founder startup digital ini adalah pebisnis awal yang minim pengalaman lapangan. Mereka piawai merancang model bisnis digital utk dijual ke venture capital (VC) namun minim pengalaman eksekusi.

Banyak dari mereka lulusan IT dari Stanford or Harvard namun minim pemahaman detail-detail bisnis di akar rumput. Lebih celaka lagi, selama ini praktis mereka blm pernah gagal, yang ada adalahl success story dan pujian terutama dari media. Baru di masa pandemi ini mereka betul-betul merasakan pahitnya kegagalan.

Kini harapan tertumpu pada VC dan korporasi besar yang selama ini menyuntik dana, meng-assist manajemen, dan mem-back operasi mereka.

Mampu dan maukah mereka menyuntikkan dana, ekspertis, dan terutama pengalaman bisnis kpd startup-startup tersebut agar mereka mampu memecahkan persoalan dan melewati badai pandemic disruption.

Semoga badai segera berlalu dan mereka sukses melewatinya.

Personal Branding Matters

Personal Branding Matters

Inilah kesalahan terbesar CEO, manager, dan biz owner UKM, yaitu tidak mensinergikan personal branding dengan business branding usahanya. Lalu bagaimana…

The Birth of Leisure Economy

The Birth of Leisure Economy

E-book ini mengulas mengenai kondisi bisnis Indonesia yang mulai mengalami pergeseran konsumsi masyarakat secara pelan tapi pasti. Terdapat 3 pembagian…

The Dark Global Economy, The Brigth Local Champions

The Dark Global Economy, The Brigth Local Champions

Tahun 2023 akan menjadi tahun yang penuh tantangan dan harapan baru yang ditandai oleh 3 change drive seperti disrupsi pasca-pandemi,…

Welcome The Age of FOMO Marketing

Welcome The Age of FOMO Marketing

Pernahkah kamu memantau situs penjualan tiket (hingga berjam-jam) untuk dapat menonton konser idolamu? Atau, apakah kamu seorang yang selalu mengecek…

The Rise of Ecosystem Selling

The Rise of Ecosystem Selling

Di era digital, penjualan B2B (business to business) tidak bisa lagi dilakukan ke konsumen secara individual (satu-persatu), tapi menggunakan pendekatan…