Selain teknologi, faktor-faktor seperti globalisasi dan perubahan iklim juga telah mempercepat tingkat disrupsi dalam masyarakat modern. Globalisasi telah membuka pasar baru dan menciptakan peluang kolaborasi lintas batas, tetapi juga meningkatkan kompleksitas dalam rantai pasok global dan menghadirkan tantangan baru dalam hal regulasi dan kepatuhan. Di sisi lain, perubahan iklim telah mendorong tuntutan akan inovasi dalam energi terbarukan, teknologi ramah lingkungan, dan praktik bisnis yang berkelanjutan.
Perubahan dalam preferensi konsumen juga menjadi pemicu disrupsi yang signifikan. Generasi millennial dan generasi Z, dengan kebiasaan belanja dan gaya hidup yang berbeda, telah mendorong pergeseran dalam industri ritel, makanan, dan hiburan. Perusahaan harus terus berinovasi dan beradaptasi dengan cepat untuk memenuhi tuntutan konsumen yang terus berubah ini, atau mereka berisiko kehilangan pangsa pasar.
Disruptor non-tradisional, seperti perusahaan rintisan (startup) dan platform digital, juga telah memainkan peran penting dalam mempercepat disrupsi dalam berbagai sektor. Perusahaan besar yang telah ada dalam industri selama bertahun-tahun seringkali harus bersaing dengan perusahaan-perusahaan ini yang lebih inovatif dan fleksibel.
Perusahaan atau pebisnis harus memiliki agility, yaitu kecepatan, kelincahan, dan ketepatan dalam merespons disrupsi, karena itulah yang merupakan faktor kunci pemain dalam memenangkan persaingan.
Disrupsi memang selalu bermuka dua. Di satu sisi meluluh-lantakan perusahaan sehingga jatuh bertumbangan (fall). Sementara di sisi lain justru membuat perusahaan bangkit (rise) dan menikmati pertumbuhan eksponensial.
Dengan adanya disrupsi pandemi misalnya, beberapa sektor industri bertumbangan industri penerbangan, hotel, MICE, restoran, mal, bioskop, sport event, dan sebagainya. Tapi sebaliknya, beberapa sektor industri justru booming seperti e-commerce, kurir dan logistik, food delivery, telemedecine, fixed broadband, online learning, hingga cloud services.
Tanpa kita sadari selama 5 tahun terakhir, kita telah menghadapi terjadinya tiga jenis disrupsi sekaligus atau disebut dengan ‘Tripple Disruption’.
Digital disruption, adalah sumber dari segala sumber disrupsi, karena itu kami menyebutnya: “core disruptor”.
Kenapa disebut “core”? Karena ia menjadi sumber dari disrupsi terbesar dalam sejarah umat manusia. Dengan adanya disrupsi ini, operasi perusahaan-perusahaan yang berbasis fisik (atom) dipaksa bertransformasi menjadi berbasis digital (bit).
Contohnya adalah Bank tradisional harus berubah menjadi digital bank atau menjadi “financial super apps”.
At the end, every company will be a digital company.
Lima tahun lalu kami masih ragu memberikan kesimpulan ini. Tapi dengan datangnya pandemi dimana COVID-19 mengakselerasi digitalisasi, maka kesimpulan di atas kian sahih. Digital brand adalah keniscayaan.
Terjadi karena nilai-nilai, perilaku, dan preferensi milenial berubah drastis (“megashifts”) dibanding generasi sebelumnya (Gen-X dan Baby Boomers), sehingga banyak produk, industri, dan kebiasaan lama yang tak relevan lagi bahkan hilang dari peredaran.
Millennial disruption kami sebut “disruptor enabler” karena kaum milenial menjadi pemungkin bagi terjadinya disrupsi yang lebih luas terutama dari sisi demand (konsumen/pasar). Pasalnya, pergeseran besar perilaku konsumen milenial di atas tercipta karena didorong oleh penggunaan teknologi digital yang masif di kalangan milenial (sering disebut “digital native”) yang kemudian membentuk pola pikir dan kebiasaan mereka (digital mindset & habit).
Contohnya adalah Industri kamera SLR mengalami penurunan sistematis di seluruh dunia, karena milenial tak lagi menggunakan kamera SLR tapi menggunakan kamera smartphone.
Seperti kita tahu, sudah hampir dua tahun ini kita diterpa oleh disrupsi terbesar abad ini yang disebabkan oleh wabah COVID-19. Sama dengan dua disrupsi pendahulunya, pandemic disruption ini pun memakan korban berupa produk, industri, dan kebiasaan lama.
Pandemic disruption kami sebut sebagai “disruptor eccelerator” karena menjadi akselerator mengganasnya digital disruption. Pandemi menjadi katalis merebaknya digital lifestyle.
Contoh gampangnya adalah WFH. Sebelum pandemi WFH adalah sesuatu yang aneh dan tidak biasa. Namun begitu pandemi datang, semua pekerjaan kita dilakukan dari rumah dengan memanfaatkan platform digital seperti Zoom. Sehingga Zoom pun menjadi utilitas yang sama populernya dengan Google.
Triple disruptions adalah mekanisme “seleksi alam” dimana begitu banyak pemain yang jatuh, tapi tak sedikit yang justru bangkitberkembang, bahkan menjadi semakin tangguh. Nah, seleksi alam ini pada gilirannya mengantarkan kita memasuki era baru yang kami sebut sebagai The Golden Age of Business Reinvention.
Kami menggambarkan, era baru ini kira-kira mirip dengan datangnya renaisans (renaissance) di Eropa abad 15-16 yaitu masa transisi dari abad pertengahan ke zaman modern; dari masa kegelapan ke masa pencerahan.
Lalu siapa yang bakal sukses melewati badai triple disruptions dan menjadi champion di era The Golden Age of Business Reinvention?
Perusahaan macam apa yang bisa lolos dari lubang jarum triple disruptions?
Mereka adalah salah satu dari tiga jenis pemain berikut:
#1. The Digitals
#2. The Creatives
#3. The Agiles
Kami menyebut tiga jenis perusahaan tersebut sebagai The Cool+Agile Brands
Untuk menjelaskan ketiganya, paling gampang adalah dengan menggunakan matriks “Digitization x Adaptation” berikut ini (lihat gambar).
Mengacu pada matriks tersebut, The Cool+Agile Brands adalah brand-brand yang piawai melakukan transformasi digital (“digitization”) dan adaptif merespon perubahan (“adaptation”).
The Digitals (high digitization, low adaptation) adalah brand yang mengandalkan kekuatan pada kapabilitas digital untuk memenangkan persaingan.
The Creatives (low digitization, high adaptation) adalah brand yang adaptabilitasnya tinggi tapi tak mengandalkan kapabilitas digital.
The Agiles (high digitization, high adaptation) adalah brand yang kemampuan adaptasi maupun digitisasinya ekselen sehingga sangat tangguh bersaing di pasar.