Tourism Post Pandemic

Kerangka kerja konseptual yang memetakan lanskap ekonomi pariwisata baru dan value proposition baru pasca pandemi

Industri pariwisata adalah industri yang paling terdampak dengan adanya pandemi COVID-19. Kondisi saat ini berkebalikan dengan situasi di akhir tahun 2019.

Industri pariwisata sangat berjaya di era leisure economy. Bahkan di era ini bisnis yang sukses adalah bisnis yang memberikan leisure experience. Sebelum pandemi, sektor ini merupakan sektor unggulan yang menyumbang Rp 280 triliun devisa sepanjang tahun 2019. Menteri Pariwisata kala itu bahkan menyebut pariwisata sebagai core economy Indonesia.

 

Namun, dengan adanya pandemi situasi berubah ekstrim. Sektor pariwisata justru yang paling terpuruk. Untuk pulih para pemain di industri ini harus menggunakan mindset baru mengacu pada perubahan-perubahan ekstrim yang terjadi.

 

Matriks ini menggambarkan lanskap ekonomi pariwisata baru di era pandemi COVID-19 dan value proposition baru yang harus dikembangkan agar pemain tetap relevan dan survive. Seperti terlihat pada bagan, matriks ini terdiri dari 3 elemen yaitu: new tourism economy, defining trends, dan new value proposition.

NEW TOURISM ECONOMY

Perubahan besar yang didorong oleh pandemi COVID-19 menghasilkan lanskap industri baru yang ditandai dengan 4 karakteristik yaitu Hygiene, Low Touch, Less Crowd dan Low Mobility. Dimana masing-masing 4 karakteristik tersebut akan membentuk lanskap ekonomi pariwisata baru yang melahirkan new rules of the game pasca COVID-19.

 

Ketika ancaman COVID-19 terus mengintai, maka Cleanliness, Healthiness, Safety, Environment (CHSE) menjadi prioritas dan preferensi utama konsumen. Maka kepatuhan pada protokol kesehatan menjadi faktor kunci pulihnya industri pariwisata. Tak heran jika di era pandemi disiplin protokol kesehatan menjadi alat branding paling ampuh.

 

Terbentuknya hygiene economy di sektor pariwisata akan membawa tren-tren baru seperti: CHS-concern travellers, hygine is the new green, protecting-not-just-promotingdestination. Konsumen akan semakin sadar terhadap isu kesehatan dan kebersihan lingkungan wisata.

Di masa pandemi kontak fisik akan dihindari karena menjadi sumber penularan COVID-19 yang massif. Maka digital menjadi solusi sementara sekaligus selamanya. Oleh karenanya, sifat industri pariwisata pun berubah frontal dari high-touch menjadi low-touch. Sehingga contactless solution menjadi pilihan utama wisatawan.

 

Di sini tren-tren besar pariwisata bakal muncul seperti: contactless tourism, self-guided travelling, hingga hybrid MICE. Untuk survive para pelaku pariwisata akan berjuang meminimalisir kontak fisik dan memanfaatkan kecanggihan teknologi.  

Ketika kerumunan orang kian dihindari di era pandemi, maka wisatawan akan memilih destinasi dan atraksi yang jauh dari keramaian (less crowd) dan di remote area. Maka kesunyian dan keterpencilan akan menjadi “kemewahan” baru. Wellness dan mindfulness akan kian dicari di tengah ketakutan dan kecemasan mental akibat pandemi.

 

Di era pandemi tempat wisata yang jauh dari kerumunan dan jauh dari kepopuleran seperti wisata alam dan budaya akan semakin diminati. Terlebih jika tempat wisata tersebut masih asri dan indah namun belum banyak diketahui para wisatawan lain (hidden game). Tuntutan akan less-crowd tourism akan menghasilkan tren-tren besar seperti: outdoor-nature-remote tourism, hybrid MICE, group travel yang makin ditinggalkan.

Era pandemi adalah era low-mobility. Masyarakat mengurangi mobilitas, karena semakin banyak perpindahan, maka semakin besar pula potensi penularan COVID-19. Wisatawan akan cenderung melakukan perjalanan pendek. Di awal, perjalanan dengan pesawat dihindari dan mereka lebih memilih menggunakan transportasi darat (roadtrip) terutama mobil pribadi.

 

Terbatasnya mobilitas selama pandemi dan kekhawatiran penularan virus COVID-19 melakukan perjalanan akan melahirkan tren-tren baru seperti: domestic-driven, slower tourism, less-yet quality travelling. Wisatawan akan lebih memilih tempat wisata dengan jarak tempuh yang pendek dan dapat dijangkau menggunakan mobil pribadi atau hanya sekedar menyewa villa maupun hotel (staycation).

NEW VALUE PROPOSITION

Di era pandemi, akibat adanya perubahan perilaku konsumen dan perubahan di tingkat makro maka konsep A3 yaitu Attraction, Amenity, Access berubah drastis sebagai konsekuensi terbentuknya new tourism economy dan terbentuknya tren-tren wisata baru.

Di era pandemi, sajian destinasi dan atraksi yang menawarkan Nature, Eco, Wellness, Adventure (NEW-A) akan lebih diminati dan menjadi mainstream baru di industri pariwisata. Di tahun 2021, inovasi-inovasi NEW-A akan berkembang cepat untuk menangkap pergeseran preferensi wisatawan ini. Singkatnya destinasi dan atraksi yang akan populer di masa pasca pandemi adalah destinasi yang menyajikan konsep alam terbuka, kembali ke alam, keterpencilan-kesunyian, sehingga para wisatawan dapat tetap menerapkan self-distancing guna meminimalisir penularan virus.

Di era pandemi pergerakan wisatawan antarnegara kian dibatasi. Wisatawan inbound-outbond pun turun drastis, dan turis domestik menjadi tumpuan. Tak hanya itu dengan adanya low-mobility preferensi wisatawan bergeser ke arah “micro tourism” yaitu jarak dan lama waktu berwisata menjadi kian pendek. Alhasil pada konsep access, tren wisata baru akan berfokus pada pendeknya jarak dan waktu yang diperlukan dalam menempuh tempat wisata.

Keramahtamahan (hospitality) akan tetap menjadi “roh” dari layanan ke konsumen. Akan tetapi itu saja tidak cukup. Di era pandemi wisatawan kian peduli pada Cleanlines, Healthiness, Safety, Environment. Karena itu hospitality service harus disempurnakan dengan hygiene, low-touch, less-crowrd (HLL) solution untuk menghasilkan layanan paripurna.