Background
Pada tahun 2013 Wonderful Indonesia (WI) praktis tidak dikenal oleh dunia karena tak masuk radar dalam peringkat daya saing pariwisata Travel and Tourism Competitiveness Index (TTCI) dari World Economic Forum (WEF).
Pada 2015 peringkatnya naik drastis di posisi 47 atau naik 100 peringkat, dari 141 negara. Prestasi ini mengungguli Thailand (“Amazing Thailand”) yang berada di peringkat 83 dan Malaysia (“Truly Asia”) di peringkat 96. Posisi ini terus naik. Tahun 2017 naik ke posisi 42 dan terakhir tahun ini naik lagi menjadi 40.
Tak hanya itu, kini WI sudah menjadi global brand karena eksposur kita di mancanegara sudah cukup massif. WI sudah hadir di Time Square, jantungnya kota New York; di Paris saat gelaran Piala Eropa 2016; juga di Moskow saat ajang Piala Dunia 2018.
Karena brand Wonderful Indonesia dan Pesona Indonesia (PI) sudah diperhitungkan di tingkat domestik maupun mancanegara, maka seperti dikatakan Menteri Pariwisata Arief Yahya, kinilah saatnya WI/PI melakukan co-branding dengan berbagai pihak.
Dengan co-branding maka akan tercipta sinergi. Definisi paling gampang dari sinergi adalah 1 + 1 = 3, bukan 2. Artinya, “the whole is bigger than the parts,” hasil gabungan lebih besar dari jumlah bagian-bagiannya. Dengan ber-co-branding maka kekuatan brand equity-nya akan berlipatlipat. Hasilnya adalah win-win partnership yang menghasilkan entitas gabungan yang jauh lebih powerful. Co-branding juga dilakukan untuk memperluas jangkauan target pasar dan mengerek ekuitas dari brands yang bergabung.
Karena berbagai pertimbangan di atas, Kemenpar membentuk Tim Co-Branding pada tahun 2017 dan mulai membuka diri untuk melakukan kolaborasi antara WI/ PI dengan brand-brand lain. Co-branding Wonderful Indonesia dilakukan dengan brand.
Visi
Sejak awal pembentukan Tim Co-Branding Kemenpar kami memiliki visi besar untuk menjadikan kolaborasi co-branding ini sebagai cikal bakal terwujudnya Indonesia Incorporated. Indonesia Incorporated adalah sebuah ide untuk menyatukan dan mengolaborasikan berbagai unsur pentaheliks (ABGCM: Academician, Business, Government, Community, Media) dalam rangka menaikkan daya saing bangsa di percaturan pasar global.
Kami meyakini, jika kolaborasi antara Kemenpar dengan brand-brand hebat Tanah Air bisa diwujudkan maka ini tak lain adalah bentuk kolaborasi Indonesia Incorporated antara pemerintah dengan kalangan bisnis.
Banyaknya brand indonesia yang menembus dan berkibar di pasar global bisa menjadi channel bagi Kemenpar untuk memasarkan destinasi wisata prioritas di berbagai negara di yang dimasuki. Sebaliknya, jika Kemenpar sudah memiliki kerjasama dan network di suatu negara melalui skema G2G, maka network itu bisa digunakan oleh kalangan swasta untuk mengembangkan pasar di negara yang bersangkutan.




