Belakangan ini gerakan boikot terhadap influencer dan artis yang mendukung tokoh politik tertentu semakin viral, tapi apa yang sebenarnya memicu gerakan ini?
Gerakan ini bermula dari sebuah thread di platform X (dulu Twitter) oleh seorang akun anonim. Mereka mengajak warganet untuk menyuarakan ketidakpuasan terhadap influencer dan artis yang dinilai tidak mendukung suara rakyat pada aksi demo #KawalKeputusanMK Kamis lalu
Kritik terhadap dukungan politik
Banyak influencer dan artis yang memiliki pengaruh besar. Tapi, ketika ada isu-isu yang merugikan demokrasi dan masyarakat, mereka tidak bersuara atas isu-isu tersebut, justru secara terang-terangan mendukung tokoh politik atau partai yang terseret atas permasalahan yang sedang diusut. Hal ini menimbulkan rasa kecewa dan menganggap sikap mereka merupakan sikap yang tidak peka dan acuh
Alhasil, tagar #BoikotInfluencer dan #BoikotArtis langsung trending. Warganet mulai mengungkapkan kekecewaan mereka dan bahkan membagikan daftar produk yang dimiliki oleh para artis tersebut. Gerakan ini menunjukkan betapa besarnya kekuatan suara kolektif di media sosial.
Tidak hanya artis dan influencernya yang kena imbas, produk-produk yang mereka endorse juga mulai dilist dan disebarkan di media sosial.
Lantas, dari aksi ini apa yang bisa kita pelajari?
Gerakan ini bukan hanya tentang politik tapi juga tentang pentingnya mendengarkan dan menghargai suara rakyat atau dalam hal branding dan marketing adalah suara konsumen. Sebab di era digital, satu suara dapat menjadi penggerak perubahan besar dan berimbas negatif.
