THE FALL OF TUPPERWARE

Model bisnis direct selling Tupperware pernah berjaya di masa lalu. Namun era kejayaan itu kini telah lewat. Bangkrutnya Tupperware menjadi sinyal lonceng kematian direct selling dan multi-level marketing (MLM).

#1. DISRUPSI DIGITAL

Disrupsi digital melumat model bisnis direct selling tradisional. Model bisnis yang mengandalkan hubungan personal dan jaringan offline ini kini tak mampu bersaing dengan kecepatan dan efisiensi yang ditawarkan oleh platform ecommerce (Toped/Shopee), medsos (IG/TikTok), atau influencer marketing.

Di era digital, konsumen semakin menginginkan membeli produk kapan saja, di mana saja, secara praktis, tanpa melalui perantara. Tupperware terlambat merespon gelombang besar digitalisasi.

#2. DISRUPSI MILENIAL/ZILENIAL

Milenial/zilenial lebih memilih belanja secara online karena kenyamanan, kecepatan, dan akses ke pilihan produk nyaris tak terbatas.

Acara kumpul-kumpul offline seperti “Tupperware Parties” kini menjadi tak efisien, tak praktis, dan buang-buang waktu, ketika semua itu kini bisa dilakukan melalui “screen” HP mereka. Mereka juga menganggap jualan ala Tupperware sudah jadul dan ketinggalan zaman.

#3. STIGMA NEGATIF

Beberapa dekade terakhir, model bisnis direct selling/MLM telah mengalami STIGMA NEGATIF di kalangan masyarakat. Model ini kian usang karena kurang transparan, obral janji, dan dianggap eksploitatif.

Banyak orang merasa terganggu oleh teman yang mencoba menjual produk MLM atau mengajak mereka bergabung dalam jejaring bisnis ini.

Data yang dikeluarkan Tupperware pada 2018 menunjukkan, 94% dari distributor aktifnya “stuck” di level bawah dalam struktur piramida penjualan mereka

Tags :

Share This :