Pelajaran dari sebuah Kepeloporan & Kebangkrutan
“Jebakan Tupperware” adalah fenomena sukses pelopor inovasi produk/model bisnis tapi kemudian mengalami kemunduran karena gagal beradaptasi (The Atlantic, 20/9).
Di tahun 1950an Tupperware adalah pelopor produk plastik tahan lama dan model pemasaran “pesta rumah” yang sangat sukses.
Namun “jebakan kesuksesan” itu kemudian membuat Tupperware ada di zona nyaman dan malas berinovasi mengikuti perubahan pasar dan perkembangan zaman.
Minggu ini Tupperware di ambang kebangkrutan.
Tupperware tak sendirian. Banyak brand pelopor lain yang terkena jebakan mematikan ini:
– Kodak
– Blackberry
– Blockbuster
– Bata
– Matahari
– dll.
Apa pelajaran berharganya?
#1. LEMBAM KESUKSESAN
Begitu kesuksesan kita dapat, kecenderungannya kita menganggap kesuksesan itu menjadi “HAK” kita selamanya.
Kita menjadi ponggah, merasa di atas angin, merasa segalanya serba mudah, dan kehilangan sensitifitas dengan pasar dan perubahan.
Kita terperangkap pada kejayaan masa lampau!!!
#2. MALAS BERADAPTASI
Pertama, Tupperware tak banyak berinovasi ketika pemain-pemain baru seperti LocknLock meluncurkan produk lebih berkualitas dengan harga lebih murah.
Kedua, Tupperware tak banyak melakukan adaptasi dan modifikasi ketika model bisnis direct selling dan MLM kian tak relevan di kalangan milenial n Gen Z. Tupperware terlambat melakukan digitalisasi dan menggaet hati milenial/zilenial.
#3. INNOVATOR CURSE!!!
Menjadi pelopor saja tak cukup! Yang terpenting justru GRIT dan PERSEVERANCE. Istiqomah melakukan continuous improvement.
Sukses adalah tentang lari MARATHON, bukan sekedar SPRINT.
