Tahun 2024 menjadi masa sulit bagi startup di Indonesia. Beberapa perusahaan besar seperti Investree, CoHive, KoinP2P, dan eFishery mengalami kebangkrutan atau masalah finansial serius.
Beberapa pelajaran penting yang bisa diambil:
- Profit Lebih Penting dari Sekadar Valuasi
Banyak startup terlalu fokus pada pertumbuhan cepat tanpa memperhatikan keberlanjutan bisnis. Akibatnya, mereka mengalami kesulitan finansial ketika pendanaan investor berkurang. - Manajemen Risiko yang Lemah
Startup berbasis fintech seperti TaniFund dan Investree menghadapi masalah likuiditas akibat gagal mengelola risiko kredit macet (NPL). - Ketergantungan pada Investor
Ketika pendanaan investor mulai berkurang, banyak startup langsung kesulitan membiayai operasionalnya. - Over-Ekspansi Tanpa Perhitungan
Ekspansi agresif tanpa strategi yang matang justru menjadi bumerang, seperti yang dialami oleh CoHive dan GoViet. - Kepatuhan Regulasi Sangat Penting
Investree dan TaniFund kehilangan izin dari OJK akibat pelanggaran aturan keuangan, menunjukkan bahwa tata kelola perusahaan yang baik (GCG) sangat penting dalam industri ini.
