Selama lima tahun terakhir, banyak e-commerce yang tumbang, termasuk Bukalapak, JD.ID, Blanja.com, dan Rakuten Indonesia. Apa yang bisa dipelajari dari kegagalan mereka?
1. Tidak Memahami Pasar Lokal
Setiap negara memiliki karakteristik unik dalam perilaku konsumsi digital. Contohnya:
- Blanja.com gagal menawarkan pengalaman belanja yang sesuai dengan preferensi konsumen Indonesia.
- Rakuten Indonesia mencoba menerapkan model bisnis Jepang yang tidak cocok dengan kebiasaan belanja online lokal.
2. Terjebak dalam Perang Harga Tanpa Strategi Jangka Panjang
Bukalapak dan JD.ID tidak mampu bersaing dengan Shopee dan Tokopedia yang memiliki modal besar untuk mendanai promosi dan subsidi gratis ongkir. Akibatnya, mereka terus merugi hingga akhirnya harus menutup operasional.
3. Lemahnya Strategi dan Eksekusi Operasional
- Multiply gagal bertransformasi dari media sosial menjadi marketplace.
- Elevenia menghadapi masalah teknis dan operasional yang menghambat pertumbuhan.
4. Ketergantungan pada Investor
Banyak startup e-commerce terlalu bergantung pada pendanaan eksternal tanpa membangun model bisnis yang profitabel. Ketika investor berhenti mendanai, mereka langsung mengalami kesulitan keuangan.
5. Kurang Adaptasi dan Inovasi
Shopee dan Tokopedia tidak hanya sekadar marketplace, tetapi juga membangun ekosistem terintegrasi dengan layanan logistik, pembayaran digital, dan social commerce (TikTok Shop). E-commerce yang tidak berinovasi akhirnya tertinggal dan tidak relevan lagi bagi pengguna.
