Ketika Bukalapak resmi melantai di bursa pada 2021, publik disuguhi narasi pertumbuhan (growth story) yang begitu menggoda. Narasi itu menjanjikan masa depan cerah, ekspansi besar-besaran, dan posisi kuat di industri e-commerce Indonesia. Tapi hari ini, hanya beberapa tahun kemudian, kenyataan berbicara lain: Bukalapak justru memilih keluar dari bisnis utamanya dan beralih ke jualan pulsa.
Apa yang salah?
Sejak awal, sinyalnya sudah jelas. Bukalapak masuk ke bursa dalam kondisi merugi — Rp 2,79 triliun di 2019, dan Rp 1,34 triliun di 2020. Namun, berkat Peraturan OJK No. 22/POJK.04/2021, yang mengizinkan startup merugi untuk IPO, Bukalapak berhasil mengumpulkan dana hingga Rp 21,8 triliun dari pasar modal.
Masalahnya bukan pada aturan itu saja, tapi pada bagaimana dana tersebut digunakan — atau lebih tepatnya, tidak digunakan untuk memperkuat bisnis.
Alih-alih agresif membangun daya saing, memperkuat inovasi, dan mengejar transformasi seperti yang dilakukan Tokopedia dan Shopee, Bukalapak justru memilih jalur aman. Dana IPO banyak disimpan dalam bentuk obligasi dan deposito, bukan untuk pengembangan teknologi, akuisisi pengguna, atau peningkatan layanan. Strategi ini mencerminkan satu hal: kehilangan arah.
Bukalapak tidak gagal karena kekurangan modal. Mereka gagal karena kehilangan semangat bertarung. Ketika pesaing lain “bakar duit” untuk merebut pasar, Bukalapak malah sibuk mengamankan uang.
Dan hari ini, keputusan untuk meninggalkan e-commerce dan fokus ke penjualan pulsa memperjelas segalanya: Bukalapak menyerah. Mereka melempar handuk di tengah pertandingan.
Lalu siapa yang paling dirugikan?
Jawabannya sederhana: investor publik. Mereka yang membeli saham karena percaya pada cerita pertumbuhan itu. Mereka yang berharap uangnya membantu membangun masa depan e-commerce Indonesia, bukan sekadar jadi bagian dari exit strategy para pendiri dan investor awal.
Ini bukan sekadar cerita tentang satu perusahaan gagal. Ini pelajaran penting bagi industri, regulator, dan publik. Bahwa narasi besar dan jargon startup tidak boleh membuat kita lupa bertanya: apa yang sebenarnya dibangun? Siapa yang benar-benar bertaruh? Dan siapa yang akhirnya membayar harga dari ilusi yang dijual?
