D’Masiv dan Tuku: Strategi Naming Rights yang Bukan Sekadar Gimmick

Belakangan ini, publik ramai membicarakan D’Masiv dan Kopi Tuku yang mengakuisisi naming rights untuk dua titik transportasi umum di Jakarta.

  • Halte Petukangan D’Masiv
  • Stasiun Cipete Raya Tuku

Kalau sekadar brand pasang nama di fasilitas umum, itu bukan hal baru. Bank BNI di Stasiun BNI City, Grab di MRT Lebak Bulus, Bank Mandiri di MRT Istora — semua sudah lebih dulu.

Tapi kenapa langkah D’Masiv dan Tuku ini jauh lebih heboh dan berkesan?

1. Bukan Sekadar Bayar, Tapi Ada Cerita

Yang membuat aksi ini powerful adalah makna di balik lokasinya. Ini bukan sekadar “asal pasang nama”.

  • D’Masiv memilih Halte Petukangan karena di sinilah perjalanan karier mereka dimulai — latihan di studio kecil, membangun mimpi dari nol.
  • Kopi Tuku memilih Stasiun Cipete karena Cipete adalah tempat gerai pertama mereka berdiri sebelum jadi ikon kopi lokal.

Ada emosi dan sejarah. Ini bukan iklan biasa. Ini bagian dari brand story yang membuat konsumen merasa lebih dekat.

2. Cerita Perjuangan, Bukan Uang Instan

D’Masiv dan Tuku bukan perusahaan raksasa dengan bujet marketing tak terbatas. Yang mereka lakukan penuh perjuangan panjang.

Andanu Prasetyo, founder Tuku, bahkan mengaku butuh enam tahun menabung untuk bisa akuisisi naming rights di Cipete.

Ini bukan soal “siapa yang lebih kaya”, tapi siapa yang lebih tekun dan berani berinvestasi jangka panjang. Cerita ini jauh lebih relatable dan inspiring bagi banyak orang.

3. Branding yang Masuk ke Kehidupan Sehari-Hari

Dengan akuisisi ini, brand mereka bukan cuma dilihat, tapi juga diucapkan dalam percakapan sehari-hari:

  • “Naik apa? Turun di Petukangan D’Masiv ya.”
  • “Kopi sore di Tuku Cipete yuk.”

Brand mereka ikut masuk dalam sistem navigasi kota, dalam aktivitas harian ribuan warga. Ini exposure yang lebih dalam daripada sekadar billboard atau iklan di Instagram.

4. Semakin Mahal, Semakin Murah

Mungkin kedengarannya mahal beli naming rights stasiun atau halte. Tapi kalau dihitung, justru lebih murah dibanding iklan biasa.

Kenapa? Karena:

  • Tayangnya bukan seminggu atau sebulan, tapi bertahun-tahun.
  • Dilihat dan disebut setiap hari oleh ribuan orang.
  • ROI (return on investment) jauh lebih tinggi dalam jangka panjang.

Ini yang saya sebut sebagai taktik “Semakin Mahal, Semakin Murah”.
Biaya awalnya besar, tapi kalau dihitung per hari, exposure yang didapat jauh lebih murah dibanding iklan digital atau billboard yang habis masa tayangnya.

Alhasil, apa yang dilakukan D’Masiv dan Tuku bukan sekadar branding biasa. Mereka membangun narasi, emosi, dan keterlibatan publik secara alami. Dan ini lebih kuat daripada iklan apa pun.

Mereka tidak hanya membuat orang mengenal nama mereka. Mereka membuat nama mereka bagian dari hidup orang banyak.

Dan itulah inti dari brand yang ingin benar-benar diingat, bukan hanya dilihat.

Tags :

Share This :