Pendirian Danantara — sovereign wealth fund baru milik Indonesia — memunculkan dua reaksi. Di satu sisi, banyak yang optimis karena berharap Danantara bisa meniru kesuksesan Temasek dari Singapura. Tapi di sisi lain, tidak sedikit yang langsung teringat pada 1MDB, skandal besar dari Malaysia yang jadi contoh buruk bagaimana dana publik bisa disalahgunakan secara brutal.
Kita tahu, 1MDB gagal bukan karena konsepnya jelek, tapi karena pengelolaannya bermasalah. Skandal itu membuat $4,5 miliar dana publik raib, diputar lewat transaksi ilegal dan pencucian uang lintas negara. Indonesia tentu tidak mau mengalami hal serupa.
Jadi, apa yang harus dilakukan agar Danantara tidak mengikuti jejak kelam 1MDB?
1. Tata Kelola Harus Jadi Pondasi
Good Corporate Governance (GCG) bukan sekadar formalitas. Ini kunci utama.
- Direksi dan komisaris harus dipilih karena kompetensi dan rekam jejak profesional, bukan karena koneksi politik.
- Pemerintah dan elite politik tidak boleh ikut campur dalam operasional investasi.
- Dewan pengawas harus diisi tokoh dari dunia ekonomi, hukum, dan akademik yang bebas dari kepentingan politik atau bisnis.
- Harus ada sistem perlindungan whistleblower, agar pelanggaran bisa dilaporkan tanpa takut dibungkam.
Tanpa struktur yang independen, Danantara bisa jadi mainan kekuasaan — dan itu berbahaya.
2. Transparansi Wajib Total, Bukan Parsial
Rakyat berhak tahu uang negara dikelola ke mana.
- Danantara harus mengikuti standar akuntansi internasional seperti IFRS, dan hasil audit keuangannya dipublikasikan secara terbuka.
- Audit tidak cukup hanya dari BPK. Harus ada auditor independen yang punya reputasi global.
- Laporan investasi harus bisa diakses publik. Kalau tidak transparan, bagaimana publik bisa percaya?
Lebih jauh, perlu ada audit forensik secara berkala — untuk memastikan tidak ada uang yang mengalir ke rekening gelap, seperti yang terjadi di 1MDB.
3. Pengawasan Boleh Ketat, Tapi Jangan Politis
DPR dan BPK memang harus punya akses penuh ke laporan Danantara. Tapi ini bukan berarti mereka boleh ikut mengatur ke mana uangnya harus diinvestasikan. Pengawasan itu penting, tapi intervensi politik justru berbahaya.
Selain itu, harus ada aturan tegas yang melarang transaksi janggal — misalnya, pinjaman ke pihak tertentu tanpa jaminan jelas. Itulah salah satu kesalahan besar yang dilakukan oleh 1MDB.
4. Hati-hati dalam Mengelola Risiko
Salah satu dosa besar 1MDB adalah terlalu banyak berutang untuk investasi spekulatif. Danantara harus belajar dari kesalahan ini.
- Jangan bergantung pada utang luar negeri yang bisa membebani fiskal.
- Jangan terjebak pada investasi yang terlihat menggiurkan tapi sebenarnya sangat berisiko.
- Danantara seharusnya fokus pada aset produktif dan risiko yang terukur — bukan proyek mercusuar yang lebih banyak pencitraannya daripada hasilnya.
Kesimpulan: Uang Publik Harus Dikelola Seperti Barang Milik Rakyat
Danantara bisa jadi peluang besar. Tapi bisa juga jadi bencana nasional — kalau tidak dikelola dengan benar.
Karena sekali dana publik dijadikan alat kekuasaan atau permainan bisnis gelap, efeknya bukan cuma kerugian ekonomi, tapi juga hilangnya kepercayaan rakyat pada negara.
Danantara harus membuktikan bahwa Indonesia bisa membangun dana investasi negara yang profesional, transparan, dan akuntabel. Kalau tidak, kita hanya tinggal menunggu waktu sampai skandal serupa 1MDB terjadi di rumah sendiri.
