BookTok dan Kebangkitan Toko Buku yang Hampir Mati

Beberapa tahun lalu, toko buku fisik seperti makhluk hidup yang menunggu ajal. Penjualan terus turun, minat baca dianggap mati suri, dan mayoritas orang lebih sibuk dengan ponsel daripada halaman buku. Tapi siapa sangka, TikTok — aplikasi yang dikenal karena joget dan konten hiburan ringan — justru jadi penyelamat dunia buku.

Fenomena #BookTok di TikTok bukan cuma tren sesaat. Ia menghidupkan kembali gairah membaca, dan lebih mengejutkan lagi, menghidupkan kembali toko buku fisik yang nyaris jadi “zombie retail”.

Kenapa bisa?

1. Gen Z Bukan Cuma Scroll, Tapi Baca

Selama ini Gen Z dicap malas baca. Tapi BookTok membuktikan yang sebaliknya. Mereka justru menjadikan membaca buku fisik sebagai gaya hidup baru. Rekomendasi dari kreator BookTok membuat buku-buku tertentu meledak penjualannya, dan mendorong anak muda untuk langsung beli di toko buku, bukan tunggu online delivery.

Yang bikin beda, Gen Z membaca bukan untuk diam sendiri. Mereka ingin share reaksi, ikut diskusi, bikin konten — pendeknya, membaca jadi pengalaman sosial. Buku bukan lagi aktivitas pribadi, tapi komunitas.

2. FOMO + Viralitas = Mesin Pembakar Hasrat Beli

BookTok bekerja karena algoritmanya memanfaatkan dua bahan bakar paling efektif: FOMO (takut ketinggalan) dan viralitas.

Buku yang viral bikin orang merasa harus baca, kalau nggak mau “out of the loop”. Tapi ketika banyak orang beli dan posting reaksi, viralitas makin besar. Ini jadi lingkaran yang saling menguatkan.

Contoh paling jelas? Buku-buku seperti It Ends With Us atau The Song of Achilles. Laris bukan karena kampanye marketing besar-besaran, tapi karena TikTok.

3. Toko Buku Kecil yang Gesit Menang

Lucunya, justru toko buku kecil dan independen yang paling cepat menangkap peluang ini — bukan raksasa retail seperti Gramedia.

Mereka bikin rak khusus “Buku Viral di TikTok”, adain acara komunitas pembaca, diskusi buku, bahkan book signing. Mereka tahu apa yang dicari pasar, dan langsung eksekusi.

Operasi mereka juga lebih efisien karena stok disesuaikan dengan tren, bukan asal borong. Banyak yang fokus pada genre spesifik seperti young adult, romance, atau literatur klasik — genre yang memang sering viral di TikTok.

Toko Buku Belum Mati, Asal Tahu Caranya Hidup

BookTok membuktikan satu hal penting: masalah toko buku dulu bukan karena orang nggak mau baca, tapi karena industri buku gagal menyambung dengan cara konsumsi generasi baru.

Ketika narasi buku dikemas dengan cara yang relatable, sosial, dan viral, minat baca bisa bangkit. Toko buku pun bisa hidup kembali — bukan sebagai tempat sunyi, tapi sebagai ruang komunitas yang dinamis.

Siapa sangka, penyelamat toko buku bukan lembaga pendidikan atau kampanye literasi formal. Tapi TikTok. Dan generasi yang dulu dicemooh sebagai “scroll generation”.

Tags :

Share This :