Saat kita mendengar kata “kriminal”, yang langsung terbayang biasanya sosok garang: pencopet, begal, atau rampok pasar malam. Tapi hari ini, ada jenis kriminal yang jauh lebih rapi — dan jauh lebih kaya. Mereka tidak membawa senjata, tidak beraksi di lorong gelap, tapi tetap mencuri. Hanya saja, caranya lebih canggih. Mereka memakai jas, memegang pitch deck, dan sering tampil di konferensi startup dengan jargon “mengubah dunia”.
Mereka ini disebut criminal unicorn.
Startup Hebat, Cerita Hebat, Tapi Bohong
Unicorn, dalam bayangan publik, adalah lambang sukses: teknologi mutakhir, valuasi miliaran dolar, dan janji masa depan yang cerah. Mereka sering membawa narasi inspiratif: memberdayakan petani, UMKM naik kelas, digitalisasi desa, dan sederet mimpi indah lainnya.
Namun belakangan, kita mulai melihat sisi gelap dari dunia startup. Di balik presentasi ciamik dan “growth story” yang menyentuh hati, ada laporan keuangan yang dimanipulasi, data yang direkayasa, dan realita bisnis yang jauh dari apa yang diklaim.
Kalau maling kelas pasar mencuri ratusan ribu untuk makan hari ini, para criminal unicorn mencuri triliunan rupiah dengan cara menyulap angka — semua demi mengejar valuasi, menarik investor, dan membesarkan gurita bisnis yang kosong isi.
Trik Lama dengan Bungkus Baru
Pola mereka hampir selalu sama:
- Mendirikan startup dengan narasi penyelamat: teknologi untuk petani, platform untuk UMKM, akses untuk yang tersisih.
- Menjual cerita pertumbuhan yang luar biasa — sering kali tanpa fondasi bisnis yang sehat.
- Menaikkan valuasi lewat laporan keuangan yang dipoles rapi, lalu meraup dana investor sebanyak-banyaknya.
Bedanya dengan maling kelas teri? Yang satu masuk penjara karena ketahuan nyolong ayam. Yang satu mungkin juga dipenjara — tapi hanya sebentar. Setelah itu bebas dengan bekal hasil “curian” yang sudah diamankan dalam bentuk saham, obligasi, bahkan investasi di startup lain. Siklus pun berulang.
Mereka Nggak Kabur. Mereka Liburan.
Ironi paling pahit adalah ini: setelah terbongkar, dihukum, dan dinyatakan bersalah, para criminal unicorn justru hidup lebih nyaman daripada sebelumnya. Alih-alih hidup dalam penyesalan, banyak dari mereka justru menikmati hasilnya. Bukan di sel sempit, tapi di pantai-pantai mahal dunia.
Mereka tidak lari. Mereka bersantai. Karena sistem membiarkan mereka melenggang pergi, membawa uang triliunan dari publik yang percaya terlalu cepat dan bertanya terlalu lambat.
Kesimpulan: Kita Harus Lebih Kritis, Bukan Lebih Terkagum
Kasus demi kasus menunjukkan satu hal: kita terlalu mudah terpukau oleh cerita sukses yang dibungkus teknologi. Padahal yang perlu kita cari bukan siapa yang paling cepat tumbuh, tapi siapa yang paling jujur bertumbuh.
Sudah waktunya publik, regulator, dan investor lebih kritis terhadap narasi besar yang menjual mimpi. Karena pencuri zaman sekarang tidak lagi datang dengan senjata, tapi dengan startup deck dan sertifikat dari Ivy League.
Dan mereka bisa jauh lebih berbahaya.
