DAHSYATNYA PERBURUAN LABUBU

Belakangan ini, fenomena boneka Labubu sedang melanda masyarakat Indonesia.

Akibatnya, sebuah toko Pop Mart di Gandaria City Mall dipenuhi konsumen yang ingin membeli gantungan boneka Labubu yang sedang viral. Ribuan konsumen mengantre hingga 17 jam demi mendapatkan boneka figur ciptaan seniman bernama How2Work dan Kasing Lung.

Viralnya boneka Labubu sejalan dengan meningkatnya minat anak muda terhadap mainan koleksi dan blind box. Juga pemantik terdahsyatnya adalah endorsement dari berbagai figur tersohor seperti Lisa & Rose Blackpink, Nagita Slavina, dan influencer lainnya.

Alhasil netizen menjadi FOMO dan rela mengeluarkan semua energinya demi mendapatkan boneka tersebut. Bahkan hingga menimbulkan kericuhan di toko Pop Mart.

Mari kita analisis fenomena ini dengan 3 bias kognitif dari FOMO.

#1 Scarcity Error

Stok boneka Labubu sangat terbatas. Bahkan terdapat batasan pembelian item per orangnya. Penjualan boneka ini juga hanya terjadi pada waktu tertentu saja, sehingga memunculkan kesan “kelangkaan” pada benak konsumen.

Dalam bias scarcity error, semakin langka suatu barang, maka akan semakin diburu.

#2 Social Proof

Sederhananya, social proof adalah kecenderungan individu untuk mengikuti tindakan orang lain.

Labubu kerap mendapatkan eksposur dari idol K-Pop ternama seperti Lisa Blackpink. Sehingga para fansnya merasa terdorong untuk mengikuti jejak Lisa, yang menciptakan kesan bahwa memiliki boneka Labubu adalah suatu hal yang “wajib” dilakukan.

Hal ini juga diperkuat dengan semakin banyaknya orang yang membagikan momen unboxing dan koleksi boneka Labubu di media sosial.

#3 Loss Aversion

Loss aversion adalah fenomena psikologis di mana individu lebih merasakan dampak negatif dari kehilangan dibandingkan dengan manfaat dari keuntungan yang setara. 

Para konsumen khawatir jika melewatkan kesempatan untuk membeli boneka Labubu, mereka tidak hanya akan kehilangan barang berharga, tetapi juga peluang untuk ikut dalam tren viral. 

Karena rasa takut kehilangan ini,para fomsumers (FOMO consumers) rela mengantre berjam-jam dan mengeluarkan uang cukup besar untuk memastikan mereka tidak ketinggalan.

Tags :

Share This :