KELAS MENENGAH SEMAKIN BABAK BELUR

Kelas menengah dan calon kelas menengah adalah penopang utama penerimaan pajak dengan total kontribusi 85,2 persen.

Merosot. Di tahun 2024,  jumlah kelas menengah berkurang menjadi 47,85 juta jiwa; atau hanya 17,13 persen dari total penduduk. 

Apa yang membuatnya jatuh miskin?

  1. Dampak pandemi Covid-19. Pandemi COVID-19 menambah tekanan bagi kelas menengah. Banyak yang kehilangan pekerjaan atau mengalami pemotongan gaji, sehingga sekitar 9,48 juta orang dari kelas menengah turun ke kelas ekonomi yang lebih rendah sejak tahun 2019.
  1. Penurunan Daya Beli. Harga kebutuhan pokok naik, pendapatan stagnan. akibatnya mereka harus mengurangi pengeluaran untuk kebutuhan lain
  1. Beban Pajak yang Berat. Beban pajak juga menjadi masalah serius bagi kelas menegah, sebab mereka harus menanggung beban pajak tinggi, sering kali merasa tertekan secara finansial. Ada peningkatan beban pajak dari 3,48% (2019) menjadi 4,53% (2024) (gambar pajak barang impor, pajak makan minum, pajak hiburan, pajak tiket pesawat, dll)
  1. Biaya Pendidikan dan Kesehatan yang tinggi. Biaya pendidikan yang terus meningkat serta kebutuhan akan layanan kesehatan yang mahal turut memperburuk situasi
  1. Utang dan Cicilan yang Menjerat. Bagi banyak keluarga kelas menengah, utang adalah kenyataan yang sulit dihindari. Cicilan rumah (KPR) dan kendaraan menjadi komponen besar dari pengeluaran bulanan mereka.

Gaya Hidup Konsumtif.  Kelas menengah cenderung memiliki gaya hidup konsumtif. Mereka terbiasa dengan pengeluaran besar untuk barang-barang non-primer dan hiburan, dan ketika krisis terjadi, kebiasaan ini sulit dihentikan, mengakibatkan masalah keuangan yang lebih besar​.

Tags :

Share This :