Kasus korupsi terbaru di Pertamina sekali lagi membuka mata kita: mafia migas di Indonesia bukan sekadar sekumpulan individu nakal, tapi sudah membentuk sebuah ekosistem bisnis yang solid dan tahan banting.
Ini bukan ekosistem biasa, melainkan ekosistem gelap — lahir dari budaya korupsi, tumbuh dari praktik manipulatif, dan bertahan puluhan tahun sejak era Orde Baru.
Kalau ekosistem bisnis sehat bekerja lewat persaingan terbuka dan efisiensi pasar, ekosistem mafia migas justru bekerja dalam pasar tertutup, monopolis, dikendalikan segelintir elite untuk memperkaya diri sendiri.
Mafia Migas: Bagaimana Mereka Bertahan?
Ada dua “bahan baku” utama yang membuat ekosistem mafia migas begitu kuat:
1. Hard Element: Jejaring Aktor
Di balik layar, ada jejaring rapi berisi pebisnis, broker, birokrat, pejabat, dan politisi. Mereka saling terhubung, saling mengunci posisi, dan bersama-sama mengatur industri migas dari hulu ke hilir. Ini bukan kerja sporadis, tapi kerja sistematis dan terorganisir.
2. Soft Element: Budaya Korupsi yang Mengakar
Korupsi bukan lagi penyimpangan di sini — ia sudah menjadi pelumas yang membuat seluruh sistem ini tetap berjalan lancar. Dalam dunia mafia migas, korupsi bukan kecelakaan, tapi bagian dari SOP (standard operating procedure).
Kenapa Mafia Migas Sulit Dibasmi?
Pertama, karena para pelakunya membangun jejaring kuat. Mereka saling melindungi, berbagi peran, dan menutup celah agar ekosistem ini tetap hidup.
Kedua, karena sudah berkembang puluhan tahun, mafia migas tahu cara beradaptasi. Mereka pintar membaca perubahan politik, gesit memanfaatkan celah hukum, dan fleksibel menyesuaikan diri dengan aturan baru.
Ketiga, karena terlalu banyak pejabat dan politisi terlibat. Jadi, setiap upaya reformasi migas — seperti yang pernah diinisiasi Faisal Basri — selalu berakhir mandek, dikandaskan dari dalam sistem itu sendiri.
Kesimpulan: Melawan Ekosistem, Bukan Hanya Memburu Pelaku
Melawan mafia migas tidak cukup dengan menangkap satu dua orang. Karena masalah utamanya bukan di individu, tapi di ekosistem yang menopang mereka.
Selama jejaring itu masih utuh, selama budaya korupsi masih dianggap “normal”, selama kepentingan politik masih bercokol dalam industri migas, maka perubahan nyata akan selalu jadi slogan kosong.
Dan kita, rakyat Indonesia, akan terus menjadi korban dari sistem yang sudah terlalu lama dibiarkan membusuk.
