Mixue Meledak di Mana-Mana, Tapi Benarkah Model Bisnisnya Sudah Teruji?

Mixue lagi-lagi bikin kejutan. Data terbaru menunjukkan bahwa merek minuman asal Tiongkok ini kini jadi jaringan F&B dengan jumlah gerai terbanyak di dunia — 45.300 outlet, mengalahkan McDonald’s dan Starbucks.

Sekilas, ini terlihat luar biasa. Tapi di balik angka besar itu, muncul pertanyaan penting: apakah model bisnis Mixue benar-benar sudah teruji dan tahan banting? Apalagi di Indonesia, trennya justru menurun. Banyak gerai sepi, bahkan mulai tutup.

Jawabannya? Bisa ya, bisa juga belum tentu.

Apa yang Membuat Mixue Meledak?

Harga Murah, Pasar Luas
Mixue masuk dengan strategi harga yang sangat terjangkau. Dibandingkan Chatime atau KOI, harga mereka jauh di bawah. Ini jelas menarik buat pasar massal, terutama Gen Z dan pelajar.

Rantai Pasok Efisien
Dari produksi es krim sampai distribusi bahan baku, semuanya dipegang sendiri. Ini membuat biaya operasional bisa ditekan — dan margin keuntungan tetap menarik, meski harga jual murah.

Ekspansi Gila-gilaan lewat Franchise
Dengan model waralaba, Mixue bisa tumbuh super cepat tanpa perlu investasi besar dari pusat. Ini juga membuka peluang usaha bagi banyak orang, walau risikonya tetap ada.

Brand yang Mudah Diingat
Maskot Mr. Mixue dan desain gerai yang seragam jadi alat branding yang kuat. Sekali lihat, orang langsung tahu itu Mixue — dan ini penting di pasar yang ramai.

Tapi, Ada Masalah yang Tak Bisa Diabaikan

⚠️ Pasar Bubble Tea Itu Kejam
Trennya cepat berubah. Hari ini es krim teh susu, besok bisa kopi gula aren, lusa Thai tea. Jika Mixue tak berinovasi, bisa saja konsumen pindah ke yang lebih baru dan lebih menarik.

⚠️ Ekspansi Terlalu Cepat = Risiko Besar
Buka gerai ribuan dalam waktu singkat bisa menciptakan kejenuhan pasar. Apalagi kalau lokasinya terlalu berdekatan atau pasarnya belum matang. Akhirnya gerai-gerai itu malah jadi beban.

⚠️ Produk Mudah Ditiru
Mixue tidak punya produk yang benar-benar unik. Saingan bisa meniru rasa, bahkan menyaingi harga. Kalau ini terjadi, dan Mixue tidak bisa membedakan diri, pelanggan bisa mudah pindah.

⚠️ Kualitas Tidak Konsisten
Dengan ribuan gerai dan sistem franchise, menjaga kualitas jadi PR besar. Satu gerai yang pelayanannya buruk bisa merusak persepsi konsumen terhadap seluruh brand.

Mixue Hebat, Tapi Masih Belum Aman

Mixue memang berhasil memecahkan rekor jumlah gerai. Tapi angka besar tidak selalu berarti bisnisnya sehat jangka panjang. Tantangannya kini bukan lagi soal ekspansi, tapi soal daya tahan.

Apakah Mixue bisa terus relevan ketika tren berganti?
Apakah mereka bisa jaga kualitas saat skala makin besar?
Apakah mereka hanya besar karena viral, atau karena benar-benar punya fondasi yang kuat?

Waktu akan menjawab. Tapi satu hal jelas: dalam bisnis, yang cepat menang belum tentu yang terakhir bertahan.

Tags :

Share This :