SUKOLILO “KAMPUNG BANDIT”

Citra Sukolilo, Pati, kian ambyar menyusul kejadian mengerikan berupa tragedi pengeroyokan bos rental mobil oleh beberapa warga kampung tersebut hingga meninggal pada 6 Juni lalu.

Kini kampung tersebut diawasi langsung oleh polisi dan dipantau netizen dari Google.

Netizen marah, dan kini muncul beragam tag negatif di Google Maps untuk Desa Sumbersoko, Sukolilo seperti:

– “Tanah Para Bandit”

– “Wisata Primitif”

– “Desa Sukomaling Jaya”,

– hingga “Penadah Kendaraan Rental”.

Ini tentu menciptkan JEJAK DIGITAL KELAM bagi Sukolilo dan Pati.

Tak hanya itu, kalangan pengusaha rental ramai2-ramai melakukan blacklist dan cancel culture kepada warga Sukolilo dan Pati. 

Begini salah satu ancaman blacklist yang dilayangkan PT PRT salah satu perusahaan rental dari Surabaya:

“Buat warga Pati, terutama warga Desa Sukolilo, sepurane (maafkan), kami tidak lagi mau menyewakan kendaraan kami. Kami akan blacklist semua konsumen yang ber-KTP Kabupaten Pati.”

Ini adalah kasus BRANDING PLACES yang suram.

Padahal di sisi lain, Singapura, Yogya, atau Banyuwangi susah payah bersolek melakukan CITY BRANDING untuk menarik TTI (trader, tourist, investor). Ini malah sebaliknya “menolak” TTI karena suatu kejadian tertentu yang kemudian memicu kemarahan dan boikot netizen.

Dalam konsep branding fenomena ini disebut: DE-MARKETING.

Celakanya, begitu suatu daerah sudah mendapatkan citra dan reputasi buruk semacam ini, maka untuk menghapusnya akan sangat sulit.

Kalau tak ada upaya sistematis dari Sukolilo/Pati untuk REBRANDING, bisa jadi citra buruk ini akan permanen dan diwariskan turun-temurun.

Tags :

Share This :