Bagi banyak investor ritel, IPO sering kali terlihat seperti pesta. Ada euforia, optimisme, dan harapan cepat untung. Tapi seperti yang kita lihat pada kasus Teguk (TGUK) dan Bukalapak (BUKA), pesta itu bisa berubah jadi mimpi buruk.
Dua perusahaan ini sempat terlihat bersinar saat melantai di bursa. Tapi hanya dalam hitungan bulan dan tahun, nilai saham mereka anjlok — dan investor harus menelan kerugian besar.
Angka Tak Pernah Bohong
- Teguk (TGUK) IPO pada Juli 2023 dengan harga Rp110 per saham. Di hari pertama, harga sempat melonjak 34% ke Rp148. Tapi per Februari 2025? Anjlok ke Rp50. Nilai pasar turun 99%. Kerugian investor sekitar Rp528 miliar.
- Bukalapak (BUKA) IPO pada Agustus 2021 di harga Rp850 per saham. Nilai pasarnya saat itu tembus Rp109 triliun. Tapi Januari 2025, nilai pasar tinggal Rp12 triliun. Turun hampir Rp97 triliun.
Dua-duanya menunjukkan pola yang sama: naik karena hype, jatuh karena realita.
Pelajaran Penting: Jangan Mabuk IPO
1. Euforia Adalah Musuh Rasionalitas
Hari pertama IPO sering penuh euforia. Harga bisa melonjak tajam hanya karena antusiasme pasar. Tapi begitu hype hilang, investor mulai melihat angka sebenarnya — dan ketika angka itu tak mendukung, harga saham jatuh bebas.
IPO bukan tiket cepat kaya. Justru di situlah jebakan psikologisnya. Banyak investor beli karena “takut ketinggalan”, bukan karena tahu apa yang mereka beli.
2. Fundamental Itu Segalanya
Bukalapak saat IPO sudah merugi lebih dari Rp1 triliun. Tapi karena brand-nya kuat dan narasi “startup lokal” sedang naik daun, banyak yang tetap beli.
Masalahnya, popularitas tidak bisa menggantikan profit. Kalau sebuah bisnis terus rugi, modelnya tidak jelas, dan tidak punya jalur menuju keuntungan, maka cepat atau lambat harga saham akan mencerminkan itu.
Teguk pun serupa. Meski bergerak di industri F&B yang sedang naik, tidak ada jaminan pertumbuhan bisa terus dijaga setelah IPO — apalagi dengan persaingan ketat di sektor minuman kekinian.
3. Jangan Beli Janji. Beli Bukti
Baik Bukalapak maupun Teguk menjual mimpi saat IPO. Tapi mimpi tanpa pijakan bisnis yang kuat hanya jadi ilusi. Dan ketika ilusi itu pecah, investor yang percaya lebih dulu adalah yang paling rugi.
Investor bukan berarti harus alergi terhadap IPO. Tapi harus lebih kritis. Jangan beli karena hype, tapi karena riset. Lihat laporan keuangan, cek model bisnisnya, dan pikirkan: apakah perusahaan ini akan tumbuh lima tahun ke depan? Atau hanya laku sesaat?
Karena dalam dunia investasi, yang bersinar di awal belum tentu yang bertahan sampai akhir.
